Terdapat suatu prasangka yang populer terhadap penggunaan kecakapan dalam menemukan sesuatu yang baru yang biasa disebut berteori. Berteori itu sendiri, bila hanya sekadar berteori, jelas hanya mempunyai arti yang kecil, tetapi berteori secara terlatih yang dihubungkan dengan pengamatan yang terlatih pula adalah mutlak bagi kemajuan keilmuan. alasan utama untuk berteori disebabkan karena kemampuan pengamatan kita yang sangat terbatas.
Kita menyadari bahwa banyak fakta-fakta alam yang tak dapat diamati secara langsung, baik karena gejala itu tidak dapat ditangkap, atau karena dimensinya yang sangat kecil, maupun hal itu sudah lama sekali terjadi dan tak akan berulang kembali. Namun semua gejala ini ada seperti juga gejala lainnya yang dapat diamati. Jika kita benar-benar ingin memahami alam, maka gejala-gejala yang secara langsung tidak dapat kita tangkap dengan indra kita yang terbatas itu, harus dijaring dengan cara lain, dan cara yang biasa digunakan adalah dengan berteori.
Semakin dalam rasa ingin tahu kita terhadap hakekat suatu fakta yang sedang kita amati, maka semakin jauh kita terbawa oleh kenyataan bahwa ia mempunyai hubungan dengan benda-benda lainnya yang mungkin tidak dapat kita amati. Fakta-fakta yang dapat diamati dijaring oleh indera-indera kita, sedangkan fakta-fakta yang luput dari tangkapan indera akan terjaring oleh pikiran kita. Oleh sebab itu, penemuan hipotesis pada dasarnya tidak lebih dari suatu usaha mental untuk membawa fakta-fakta tak dapat ditangkap ke dalam suatu hubungan sebab akibat dengan fakta-fakta yang dapat ditangkap. Usaha dalam menemukan hubungan ini, bukan saja merupakan yang terpuji tetapi juga perbuatan yang berani.
Ketika pertama-tama hipotesis ditemukan, maka hipotesis itu bukan saja merupakan sesuatu yang tidak lengkap, namun juga tanpa jaminan bahwa hipotesis itu benar, khususnya dengan fakta-fakta yang tak tertangkap oleh indera kita. Tentu saja hipotesis harus menjelaskan fakta-fakta yang diamatimenurut suatu kerangka pikiran tertentu, sebab kalau tidak, maka semua tidak ada artinya. Tetapi sebelum salah satu dari berbagai hipotesis yang bersaing dapat diterima sebagai sesuatu yang benar, maka ia harus menjelaskan fakta-fakta lain yang ada hubungannya dengan fakta-fakta tersebut yang pada waktu itu mungkin belum ditemukan. Penjelasan ini harus dilakukan secara konsisten dengan semua pengetahuan yang telah diketahui sehingga penjelasan baru ini sesuai dengan penjelasan-penjelasan sebelumnya. Kalau persyaratan ini belum terpenuhi, maka tak satupun dari hipotesis-hipotesis yang diajukan dapat diterima.
Oleh sebab itu setelah berbagai hipotesis ditemukan, maka langkah selanjutnya adalah menemukan mana dari hipotesis-hipotesis tersebut yang benar, dan dalam hal ini adalah menentukan apakah fakta-fakta yang tidak tertangkap indera yang dikemukakan dalam hipotesis tersebut ternyata memang ada. Dan ini mengundang kita untuk mengujinya.
Kiranya patut ditambahkan bahwa persyaratan eoengujian hipotesis ini merupakan perbedaan yang utama antara ilmu modern dan ilmu primitif, dan disebabkan hal inilah maka kemajuan dalam ilmu modern untuk menemukan benda-benda yang tiudak tertangkap menjadi semakin pesat.





