Istilah Implementasi kurikulum pada dasarnya tidak hanya bermakna melaksanakan isi kurikulum sebagaimana yang tersurat dalam rumusan kurikulum, tetapi implementasi kurikulum sesungguhnya mencakup seluruh aspek dari setiap upaya guru di dalam melaksanakan kurikulum dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab. “Implementasi kurikulum” harus dimaknai sebagai upaya yang bersifat komprehensip dalam kaitannya dengan mencapai tujuan pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya.
Jika seorang guru hanya memaknai implementasi kurikulum dalam kaitannya dengan menunaikan kewajiban mengajar di dalam kelas semata, maka pendidikan akan kehilangan makna dalam arti yang sesungguhnya. Hasil pendidikan akan sangat terbatas pada ranah yang sempit. Implementasi kurikulum yang demikian, hanya “sukses” menjadikan para peserta didik menguasai materi pelajaran saja. Di pihak lain, implementasi kurikulum gagal mencapai ranah-ranah lain yang sesungguhnya tidak boleh dipisahkan satu dengan lainnya.
Pemahaman guru terhadap implementasi kurikulum yang sempit menghasilkan pendidikan yang pincang. out put pendidikan hanya mencerminkan keberhasilan yang bertumpu pada “kecerdasan intelektual” semata. Akibatnya wajah pendidikan kita tidak menunjukkan suatu kondisi yang equilibrium antara ranah kognisi, afeksi dan psikomotorik pada diri peserta didik. Jika anda mencoba menganalisis situasi pendidikan kita sekarang…boleh jadi anda sependapat dengan saya. Karena itu, yang dibutuhkan dari guru adalah dedikasi dan tanggung jawab “moral” nya terhadap implementasi kurikulum yang equilibrium.





