Fenomena akhir-akhir ini sungguh banyak yang menarik dan membuat saya jadi banyak belajar tentang berbagai hal, termasuk di antaranya ekonomi. Jadi, gak salah kan kalau ikut-ikutan bicara soal ekonomi dan Bank Century
. Hal menarik yang saya maksud di antaranya adalah soal bagaimana kebijakan dana bail out bisa dikucurkan. Alasan yang sering didengar bahwa situasi Bank Century dapat berdampak sistemik (oleh indobarometer disebutnya “menular”) terhadap situasi perekonomian di Indonesia. Mungkin yang dapat dipahami adalah jika berdampak sistemik berarti akan menimbulkan kekacauan di bidang ekonomi (kira-kira begitu). Masalahnya kemudian, melalui berbagai media yang dibaca dan didengarkan ternyata para ahli berbeda pendapat tentang hal tersebut. Sebahagian ahli (diantaranya ada ahli ekonomi, mantan gubernur BI dan banyak lagi yang lainnya) mengatakan situasi Bank Century tidak berdampak sistemik, sebahagian lagi mengatankan berdampak sistemik (termasuk Menkeu Sri Muliani, dan Mantan Gubernur BI Boediono yang sekarang menjadi Wapres RI). Nah lho? apa teorinya beda atau memang tidak ada aturan yang jelas tentang Bank berdampak sistemik atau tidak sistemik. Mantan Wapres Jusuf Kalla sendiri mengatakan bahwa Bank Century bermasalah karena “dirampok” pemiliknya sendiri.
Implikasinya ternyata kemudian berdampak dan melibatkan para pengambil keputusan Sistemik atau tidak sistemik nya Bank Century itu tadi, yaitu Menkeu dan Ketua KSSK Sri Muliani, dan Boediono sebagai Gubernur BI pada saat itu, yang sekarang menjadi Wapres RI. Dalam perkembangannya kasus Bank Century akhirnya dibawah ke sidang DPR melalui Pansus Hak Angket Bank Century.
Melihat hal tersebut, menimbulkan beberapa pertanyaan. Jika kemudian kebijakan Bail Out Bank Century dinyatakan keliru, maka siapa yang bertanggung jawab? Sri Muliani atau Bodiono? atau siapa? dan jika benar-benar hal itu merupakan kebijakan yang keliru, apakah dana Bail Out itu harus ditarik kembali? (yang terakhir ini tentu pertanyaan yang bodoh, tapi setidaknya mewakili pertanyaan sebahagian besar rakyat bodoh seperti saya), apalagi dananya sampai 6,7 Triliun.
Salah satu situs Polling -Indobarometer- menyebutkan Kasus dana penyelamatan Bank Century merupakan isu yang sangat menyita perhatian publik. Hal ini terbukti dari tingkat pengetahuan publik yang sangat tertinggi terhadap kasus ini (77%). Angka ini diatas pengetahuan masyarakat tentang Program 100 Hari Pemerintahan SBY-Boediono ( 49%), dan penahanan Bibit Waluyo-Chandra Hamzah (69%). Ia hanya kalah populer terhadap kasus pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen (79%).
Poling di Indobarimeter juga menyebutkan, ketika ditanya lebih lanjut apakah Menkeu Sri Mulyani telah bertindak benar atau salah dalam kasus ini, 43% menyatakan Sri Mulyani salah dan 33% menyatakan benar. Untuk Gubernur BI Boediono, 46% menyatakan Boediono salah dan 30% menyatakan benar. Namun sebaliknya untuk Presiden SBY, 53% menyatakan SBY benar dan 25% menyatakan salah.
Hasil Polling di atas juga menunjukkan bahwa kasus Bank Century cenderung berakibat lebih buruk terhadap Sri Mulyani dan Boediono ketimbang SBY. Hal ini juga terlihat dari tingkat kepuasan publik dan pilihan presiden dan wapres jika pemilu dilaksanakan pada hari ini. Publik yang puas pada kerja SBY masih dominan (75%) dibandingkan dengan yang tidak puas (23%). Bandingkan dengan yang puas pada Boediono (40%), sementara yang tidak puas (44%). Yang memilih (kembali SBY) sebagai presiden 55%, sementara yang memilih Boediono (kembali) sebagai wapres hanya 18%.
Walau demikian bukan berarti SBY bebas sama sekali dari dampak kasus Bank Century. Mayoritas publik berpendapat kasus Bank Century dapat merusak citra SBY (48% ), dibandingkan dengan yang tidak (18%). Hal ini juga tampak dari cukup besarnya masyarakat yang menilai kasus Bank Century dapat jadi alasan memakzulkan Presiden SBY (22%), meski mayoritas menilai sebaliknya (37%). Yang jelas, kasus Bank Century ini telah menjadi “lampu merah” bagi Boediono karena yang berpendapat kasus Bank Century dapat jadi alasan memakzulkan Wapres Boediono mencapai 33% . Angka ini lebih lebih tinggi daripada daripada yang berpendapat sebaliknya (26%).
Lalu bagaimana harapan masyarakat terhadap kinerja Pansus Bank Century di DPR? Polling menunjukkan bahwa publik “harap-harap cemas” menunggu penyelesaian kasus Bank Century oleh Pansus Bank Century di DPR. Tantangan untuk Pansus cukup besar karena hanya 52% persen dari publik yang yakin Pansus dapat mengungkap kasus Bank Century dibanding 37% yang tidak yakin. Adapun mengenai tugas Pansus, porsi terbesar masyarakat (37%) menghendaki fokus pada upaya mengungkap penyelewengan dana talangan untuk tujuan yang bukan semestinya. Artinya Biarlah dana 6,7 triliun itu mengalir, tetapi yang terpenting adalah dana itu mengalir kemana. Nah Lho??





