Konon di suatu rapat, iblis menangis tersedu-sedu dan sangat menyesali diri. Bagaimana tidak….Sang Iblis ternyata tidak menduga… bahwa akibat dari godaan yang dilakukannya terhadap manusia, menyebabkan dia kehilangan pekerjaannya sebagai iblis penggoda nomor wahid. Dia di PHK karena tidak ada lagi pekerjaan yang cocok untuknya.
Ceriteranya memang sepele, suatu hari sang Iblis -seperti biasa- berangkat ke tempat tugas menggoda manusia. Kali ini seseorang yang bernama Gajuz Tambuhan yang jadi target. Rupanya formula yang digunakan sang iblis terlalu kuat, sehingga efek yang ditimbulkannya sedemikian hebat. Si Gajuz pun merajalela, melakukan berbagai perbuatan dan pelanggaran. Tak lupa pula, dia melibatkan banyak pihak di sekitarnya,bahkan berikut pihak-pihak lain di luar institusinya. Singkat kata, Gajuz telah berhasil melakukan sebahagian besar perbuatan yang dibisikkan Iblis kepadanya, menyeret orang-orang mulai dari rekan sejawat, atasannya hingga petinggi-petinggi penting lainnya. Dalam hitung-hitungan Gajuz sih nampaknya aman, dan itu sudah sesuai dengan saran sang iblis kepadanya.
Masalahnya bagi iblis sekarang, adalah sejak pengarahan yang diberikannya kepada si Gajuz, si iblis tidak perlu lagi membisiki gajuz tentang apa yang harus dilakukanya kemudian. Si Gajuz rupanya sudah tahu benar cara-caranya. Gajuz dan kolega-koleganya telah bekerja secara sistematis dan automatically masuk ke dalam sistem-sistem yang ada. Akibatnya sang iblis jadi nganggur dan kehilangan pekerjaan. Ya…si Iblis telah “dicampakkan”.
Boleh jadi dewasa ini, sebahagian besar iblis penggoda memang telah di PHK dari pekerjaannya sebagai penggoda. Tidak ada lagi pekerjaan yang cocok dengan mereka. Iblis sudah tidak perlu lagi menggoda manusia. Toh sistem yang rusak sudah sangat luas, dan kalau ada yang mencoba memperbaiki, pasti akan banyak yang menghalangi dari kalangan manusia sendiri. Lagi pula manusia-manusia yang dirusak itupun seperti pada bingung mau memperbaiki dan memulainya dari mana. Sungguh dahsyat, dan lihat saja… lembaga-lembaga yang selama ini menjadi tumpuan penegakan keadilan dalam masyarakat, justru menjadi berita sepanjang hari, siang dan malam. Semuanya sudah sangat rusak, dan butuh waktu -lama?- untuk memperbaikinya.
Sang iblis pun kini meratapi diri, kehilangan pekerjaannya sebagai penggoda manusia. “Uuuuhhh… sekarang manusia tidak perlu digoda lagi untuk merusak….mereka sudah pada pintar merusak …..bahkan semakin cerdas cara merusaknya, keluhnya sambil pergi menenteng surat PHK nya”.






Assalamualaikum Wr.Wb
Ustad. saya minta maaf sebelumnya, saya ingin berdiskusi, mungkin lebih lanjut lagi tentang pendidikan Agama bukan saja sebagai lembaga yang mampu melahirkan para peserta didik, ataupun serjana yang hanya memiliki kesalehan individual saja, akan tetapi hal lebih paling lagi adalah membentuk kesalehan kesakehan sosial. artinya bahwa. .. . kalau proses pendidikan yang mereka dapatkan di lembaga pendidikan Formal, taupoun dikampus yang bernuansa Agama tidak cukup untuk membentuk kesalehan sosialnya, berarti ada yang salah pada area Kurukulum Agamanya. . . . lantas apa yang harus kita lakukan untuk menyadarkan /atau membangunkan kesadaran aakan kesalehan sosialnya ustad. . ? ? ada anekdot yang pernah muncul di benak pikiran saya.. . . STAIN PALOPO ini kan bernuansa agama, yang menjunung nilai-nilai islami yang bersumber dari al-Qur’an dan as-sunnah. . . tapi di lain sisi. . kehidupan mahasiswa diluar kampus STAIN in sangat memperihatinkan. . . . bahkan ada yang tidak lagi bernuasa islami, baik dari segi tutur katanya, ctata cara busananya, yang jauh. . .. . dari nilai islam. . . . bahkan yang sangant memperihatinkan adalah anak laki-laki yang ketika mendengar azan dikumandangkan di masjid-masjid. . . in tidak dihiraukan lagi, bahkan mereka tidak memiliki alasan yang sar’i untuk menolak pangilan azan itu. . . . Ustad . . . sebenarnya apa yang sedang terjadi Pada generasi Muda kita di sekarang ini Kususnya para mahasiswa ( i ) kampus STAIN PALOPO in Ustad ? ? sukroon sebelumnya Ustad. . . . . PAI. A smester IV
Waalaikum salam wr.wb.
Saya berterima kasih atas komennya di blog ini. Oh ya …tentang apa yang terjadi di sekeliling kita nampaknya telah menjadi tanda-tanda akhir zaman. Hanya saja… tanda-tanda yang memprihatinkan kita semua itu terjadi pula di lingkungan kita, mungkin di rumah, di lingkungan tetangga, dan bahkan “mungkin” di kampus kita. lihat apa yang dikatakan Gus Mus dalam pusisinya berjudul “Kau ini bagaimanaa.. atawa aku harus bagaimana di ” Munir yusuf dot com
Yang perlu dilakukan adalah membangun kesadaran transendental, suatu kesadaran untuk kembali ke fitrah. Rasanya sulit untuk mengubah perilaku orang lain, karena itu ada baiknya kita memulai saja dari diri kita sendiri, Mulai dari saya, anda lalu kemudian kepada sahabat kita yang lain.