Tag Archives: guru
Guru Profesional dan Implementasi Kurikulum
Menjadi guru profesional, itulah harapan saya, anda, kita, masyarakat, pemerintah dan harapan seluruh bangsa. Jabatan dan profesi guru dewasa ini telah menuai banyak sorotan. Di tengah upaya meningkatkan kesejahteraan guru, isu profesionalisme guru kemudian menjadi isu yang mengemuka. Alhasil, tuntutan profesionalisme guru menjadi syarat bagi peningkatan kesejahteraan guru. Bagi guru yang telah memenuhi syarat guru profesional, kemudian diberikan sertifikat pendidik dan berhak atas tunjangan profesional atau tunjangan sertifikasi. Lalu bagaimana implementasinya di lapangan?
Tugas guru antara lain adalah implementasi kurikulum dalam berbagai bentuknya. Baik melalui pembelajaran di kelas, maupun kegiatan lain yang menunjang terlaksananya kurikulum. Lantas bagaimana menjadi guru profesional? sebuah pertanyaan yang sungguh sangat sulit mengukurnya. Di tengah merosotnya mutu dan kualitas pendidikan, kita dihadapkan oleh kenyataan, betapa rendahnya mutu guru di Indonesia. Alasan yang sering dikeluhkan mengapa kinerja guru sangat rendah adalah karena rendahnya “upah” bapak dan ibu guru kita. Lalu apakah dengan sertifikasi guru, semua itu dapat diatasi? sekali lagi sungguh sangat sulit dijawab. Kenyataan menunjukkan bahwa pelaksanaan sertifikasi guru sungguh jauh dari harapan. Contoh kecil -misalnya- para guru ternyata banyak yang membeli sertifikat seminar untuk melengkapi berkas portofolio sertifikasi. Masalahnya …..sudah banyak yang lulus dengan cara seperti itu. Inikah sertifikasi yang diharapkan? Saya kira …sungguh jauh dari harapan. lalu bagaimana nasib kurikulum yang diimplementasi oleh para guru dengan model sertifikasi yang demikian?
Implementsi Kurikulum: Dedikasi dan Tanggung Jawab Guru
Istilah Implementasi kurikulum pada dasarnya tidak hanya bermakna melaksanakan isi kurikulum sebagaimana yang tersurat dalam rumusan kurikulum, tetapi implementasi kurikulum sesungguhnya mencakup seluruh aspek dari setiap upaya guru di dalam melaksanakan kurikulum dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab. “Implementasi kurikulum” harus dimaknai sebagai upaya yang bersifat komprehensip dalam kaitannya dengan mencapai tujuan pendidikan dalam arti yang seluas-luasnya.
Jika seorang guru hanya memaknai implementasi kurikulum dalam kaitannya dengan menunaikan kewajiban mengajar di dalam kelas semata, maka pendidikan akan kehilangan makna dalam arti yang sesungguhnya. Hasil pendidikan akan sangat terbatas pada ranah yang sempit. Implementasi kurikulum yang demikian, hanya “sukses” menjadikan para peserta didik menguasai materi pelajaran saja. Di pihak lain, implementasi kurikulum gagal mencapai ranah-ranah lain yang sesungguhnya tidak boleh dipisahkan satu dengan lainnya.
Pemahaman guru terhadap implementasi kurikulum yang sempit menghasilkan pendidikan yang pincang. out put pendidikan hanya mencerminkan keberhasilan yang bertumpu pada “kecerdasan intelektual” semata. Akibatnya wajah pendidikan kita tidak menunjukkan suatu kondisi yang equilibrium antara ranah kognisi, afeksi dan psikomotorik pada diri peserta didik. Jika anda mencoba menganalisis situasi pendidikan kita sekarang…boleh jadi anda sependapat dengan saya. Karena itu, yang dibutuhkan dari guru adalah dedikasi dan tanggung jawab “moral” nya terhadap implementasi kurikulum yang equilibrium.
Banyak Guru Belum Sarjana?
Data di daerah Bali menunjukkan sebanyak 25.316 guru dalam berbagai jenjang pendidikan di Bali hingga kini belum menyandang gelar sarjana (S-1)/diploma 4 (D4) atau persentasenya mencapai 52,52 persen dari jumlah tenaga pendidik yang ada sebanyak 48.200 orang. Demikian sumber dari Kompas Bagaimana dengan daerah anda? lebih baik? sama? atau lebih buruk?
Kenyataannya memang demikian, secara teori, bagaimana mungkin membangun masyarakat bangsa dan generasi muda bangsa jika para pendidiknya unqualified atau underqualified. Sejauh ini, tolok ukur kualifikasi guru masih sangat terbatas pada kualifikasi ijazah yang dimilikinya. Bagi guru dengan gelar sarjana matematika -misalnya- tentu qualified jika dia mengajar matematika. Lalu bagaimana dengan yang belum sarjana?
Karena itu, pemerintah dewasa ini memang telah mendorong kepada para guru yang belum sarjana untuk segera memperoleh gelar sarjananya, sebagai syarat minimal untuk menjadi tenaga guru. Beberapa program pemerintah telah mendukung ke arah tersebut, baik melalui tugas belajar, maupun izin belajar serta pemberian beasiswa. Hanya saja hal tersebut jumlahnya masih sangat terbatas, sehingga para guru lebh didorong untuk membiayai sendiri studinya hingga sarjana.
Implementasi Kurikulum dan Permasalahannya
Implementasi kurikulum mengacu kepada adanya aksi atau tindakan dari para guru untuk melaksanakan kurikulum sebagai mana yang telah ada. Namun demikian, betapapun indah dan bagusnya rumusan tujuan atau cita-cita pendidikan/pengajaran yang sudah tertuang dalam kurikulum formal tetapi hal itu belum memberi jaminan bahwa apa yang termuat di dalam kurikulum dapat teraktualisasikan di dalam proses belajar mengajar. Karena, aktualisasi dan penjabaran kurikulum di dalam proses belajar mengajar sangat ditentukan serta tergantung kepada seberapa besar peranan yang dimainkan oleh para guru (Danim, 2002)
Oleh karena itu, guru memegang peranan penting dalam implementasi kurikulum. Syaodih (dalam Nurdin dan Usman, 2002:68) bahwa:
Kurikulum nyata atau aktual kurikulum merupakan implementasi dari official kurikulum oleh guru di dalam kelas. Betapapaun bagusnya sebuah kurikulum, tetapi hasilnya sangat tergantung kepada apa yang dilakukan oleh guru dan juga peserta didik di dalam kelas.
Masalah yang sering menjadi perdebatan seputar kurikulum adalah persdoalan implementasi kurikulum yang “kadang-kadang” belum diketahui hasilnya namun telah diganti pula dengan kurikulum yang baru. Secara teknis dapat dikemukakan beberapa persoalan.
1. Kesiapan dan kemampuan guru memahami kehendak kurikulum baru;
2. Kesiapan perangkat/media dalam mendukung pelaksanaan kurikulum baru;
3. Sosialisasi kurikulum kepada masyarakat.
Berkenaan dengan persoalan yang dikemukakan di atas, maka semuanya akan sangat terpulang kepada fungsi dan peranan guru dan staf di sekolah, dalam upaya mengembangan dan mengimplementasikan kurikulum sehingga benar-benar dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya.
Untuk itu, sosialisasi terhadap kurikulum amat penting dilakukan dengan segera, untuk menghindari keterlambatan pamahaman yang berakibat pada keterlambatan penerapannya.





Komentar